*Cerita Rakyat dari Kab. Pidie, Prov. Aceh
Ditulis oleh : Rahmi Safana, S.TH (Guru MIN 17 Pidie)
Di suatu desa di negeri Pedir, di sebuah rumah Aceh yang megah dan luas milik bangsawan Aceh, tempat Pocut Intan tinggal bersama nyak (ibu) dan ayah, serta dayang-dayang. Pocut Intan berparas cantik jelita. Setiap hari Pocut Intan bermain di halaman rumahnya yang sangat luas, bahkan luasnya sampai ke seberang sungai.
Pada suatu hari, nyak (ibu) Pocut Intan pergi ke pasar, Pocut tinggal di rumah bersama dayang karena ia sedang kurang sehat. Sedangkan ayah pocut intan sedang pergi ke acara musyawarah desa.
“Pocut Intan, nyak pergi ke pasar dulu ya, pocut tinggal dengan dayang sebentar, jangan ke mana-mana ya nak “. Pesan Nyak pada Pocut Intan.
“Baik nyak”. Jawab Pocut Intan.
Pocut Intan yang senang bermain, tidak sanggup menjaga amanah dari nyak, ia langsung lari ke halaman belakang rumah. Saat Pocut sedang bermain, Ia menemukan telur yang sangat besar. Pocut mengambil telur tersebut dan membawanya ke rumah.
“Dayang……tolong masak telur ini ya” Pinta Pocut Intan pada dayang.
Dayang tidak berani memasaknya, karena bentuknya yang sangat aneh.
“Mohon maaf Pocut Intan saya tidak berani memasaknya , bentuknya aneh tidak sama seperti bentuk telur ayam seperti biasanya.” Jawab dayang.
Kemudian Pocut Intan menangis terisak-isak.
“eeeeee eh eh eeeeeee eh eh eh” tangis Pocut Intan.
Dayang semakin resah, ia khawatir demam pocut intan semakin naik. Jadi dayang memutuskan untuk memasak telur tersebut.
“Jangan menangis lagi ya pocut Intan…. sekarang akan saya masak telur itu. Pocut tunggu sebentar ya” Pinta dayang.
Setelah telur itu di masak oleh dayang, Pocut intan segera memakannya dengan lahap sampai habis. Tak lama kemudian, suhu badan Pocut Intan makin meningkat. Badan Pocut semakin panas, dan ia pun sangat kehausan. Pocut terus- terusan meminta minum pada dayang.
“Dayang, saya sangat haus, tlg lah ambilakan air untuk saya” pinta Pocut Intan pada dayang.
Habislah air satu ceret, tapi pocut masih merasa haus dan masih juga mint untuk diberikan minum.
“Dayang, ambil lah air lebih banyak lagi, saya masih sangat haus” pinta Pocut Intan pada dayang.
Habislah seluruh air yang ada dalam kendi di rumoh pocut Intan, Pocut masih juga merasa sangat haus, ia terus meminta air pada dayang.
“wahai dayang, tlg lah ambilkan lagi air yang banyak untuk saya. Saya sudah tidak sanggup lagi, saya sangat haus dayang….” tangis Pocut Intan.
Dayang terus memberikan semua air yang ada di rumah, hingga habis air di dalam sumur tapi pocut Intan masih sangat haus
Tiba-tiba nyak Pocut Intan pulang dari pasar. Nyak terkejut melihat Pocut Intan yang menangis meraung-raung karena kehausan. Badan Pocut sangat panas dan merah menyala.
“Ya Allah….,,,dayang, kenapa anak saya bisa seperti ini?” tanya nyak Pocut Intan pada dayang.
Dayang menceritakan seluruh kejadian pada nyak Pocut Intan. Lalu pergilah nyak ke rumah – rumah penduduk di desa untuk meminta air agar bisa diminum oleh pocut Intan. Namun, hingga habis air yang ada di seluruh sumur penduduk Pocut Intan masih merasa haus. Badanya semakin membesar, merah dan bersisik.
Pada saat bersamaan, pulanglah ayah Pocut. Ayah sangat terkejut melihat Pocut yang membesar, berguling-guling, meraung-raung menangis kehausan. Badannya semakin merah dan bersisik.
Ayah Pocut Intan yang sangat bijaksana mengambil sebuah keputusan, ia memanggil beberapa suruhannya untuk memotong sebuah pohon rumbia.
“wahai dayang, potonglah sebuah pohon rumbia yang besar, saya ingin membuatnya menjadi parahu yang besar” Perintah ayah pocut pada dayang.
Akhirnya jadilah sebuah perahu yang besar. Perahu itu diletakkan di suangai yang sudah mengering airnya karena diminum oleh Pocut Intan tadi. Pocut Intan ditidurkan oleh ayahnya di dalam perahu tersebut. Lalu ayah pocut Intan berdoa kepada Allah SWT agar mengalirkan air yang besar ke dalam sungai.
“Ya Allah turunkanlah air bah yang besar ke sungai ini. Kasihanilah pocut Intan anak kami ya Allah” Permohonan ayah Pocut Intan bak Allah Ta’ala sambil menangis.
Dengan izin dan kuasa Allah SWT, datanglah air bah yang besar ke sungai membawa Pocut Intan hanyut ke laut yang luas . Pocut Intan sangat senang sampai di lautan karena ia bisa minum dengan puasnya , hilanglah rasa haus Pocut Intan.
Ternyata ayah dan nyak pocut Intan mengikutinya di sepanjang sungai hingga ke tepi laut dengan air mata dan doa. Ayah pocut berseru “Pergilah wahai anak ku sayang..! Ayah dan Nyak ikhlas asal pocut tenang dan bahagia. Semoga kita bisa berjumpa kembali di syurga Allah!”. Suara pocut Intan menggema di tepi laut yang luas.
Hikmah Cerita ini : Amanahlah terhadap pesan ayah dan Ibu dan bersabarlah dalam menjalankan sebuah amanah.