*Cerita Rakyat dari Kab. Pidie, Prov. Aceh
Ditulis oleh : Susi Armiyanti, S.Pd.I (Guru MIN 17 Pidie)
Pada zaman dahulu, di Negeri Pedir yang sekarang disebut Kabupaten Pidie Aceh, ada 7 orang pemuda yang sangat ingin pergi ke Makkah, untuk menunaikan ibadah haji. Mereka adalah orang-orang yang baik dan taat. Namun, dikisahkan mereka tidak punya uang untuk perjalanan menuju ke Makkah.
Suatu hari, ketujuh pemuda itu berembuk duduk bersama. Salah satu pemuda memberikan ide, “Ohya saudaraku, bagaimana kalau kita pergi ke bandar, tempat berlabuhnya kapal yang akan memberangkatkan jama’ah haji?” Pemuda lain juga ikut menyampaikan ide, “Mmmm benar juga, bagaimana kalau kita meminta pekerjaan di sana, waluapun tidak dibayar, yang penting kita bisa sampai ke Makkah.” Ide itupun disambut gembira oleh rekan-rekannya. Karena mereka sudah sangat rindu akan Tuhan-Nya. Dan mereka juga telah memilih salah seorang untuk menjadi pemimpin.
Keesokkan harinya, mereka berangkat mengenakan pakaian serba putih dan bekal yang telah dibungkus menjadi tujuh bagian, diletakkan di atas bahu masing-masing dengan penyangga tongkat kayu. Mereka berjalan naik turun gunung menuju bandar Kutaradja yang membutuhkan waktu lima hari lamanya.
Tiba-tiba di tengah perjalanan, salah seorang di antara pemuda itu malah jatuh sakit. Badannya menggigil dan panas, bekal makanan yang mereka bawapun semakin menipis. “Wahai saudaraku, aku takut kita tersesat di tengah hutan belantara ini.” Kata pemuda yang menggigil dan demam tadi. Lalu, rekannya menjawab, “ Bagaimana kalau kita beristirahat sejenak?” Mereka semua mengagguk. Akhirnya mereka memutuskan untuk berteduh di puncak gunung. Namun, mereka tidak pernah lupa menunaikan shalat lima waktu dengan petunjuk bayangan tubuh di siang hari.
Setelah mereka menunaikan shalat Zhuhur, pemimpin mereka mengajak untuk berembuk kembali. Mereka bersyukur tidak ada binatang buas yang mengganggu mereka. Ternyata salah seorang pemuda melihat asap yang menjulang ke langit dari kejauhan. “Wahai saudaraku, lihatlah di sana! Sepertinya ada pemukiman, lihatlah asap-asap itu! “Iya benar saudaraku, sepertinya kita bisa mencari bantuan di sana dan meminta sepiring nasi untuk rekan kita yang sakit.”Ujar pemimpin mereka. “Mmmmm, tapi siapa yang ke sana, karena harus menuruni lereng bukit yang terjal. Bagaimana kalau kita berbagi tugas.” Kata rekan lainnya. “ Baiklah, baiklah”, sahut mereka bersama.
Usul sudah disepakati. Ada yang mencari sumber mata air, ada yang mencari kayu bakar, ada yang mencari buah-buahan yang bisa dimakan, ada yang menjaga rekannya yang sakit dan pemimpin mereka yang akan turun ke pemukiman. Berangkatlah mereka untuk menjalankan tugasnya masing-masing. Pemimpin mereka turun ke kampung mengikuti arah asap dengan pakaian lusuh. Bahkan tak menjadi halangan, meskipun tubuhnya tergores bebatuan runcing hingga berdarah.
Sesampainya di pemukiman, pemimpin itu dengan lega berbisik di dalam hati, “Alhamdulillah ya Allah, akhirnya sampai juga, sepertinya sedang ada hajatan, saya harus mendapatkan sepiring nasi, agar rekan saya cepat sembuh.” Tibalah pemuda itu di tempat hajatan, disapanya orang-orang dengan sopan. “Assalamu’alaikum, bolehkah saya meminta sepiring nasi? Teman kami sedang sakit di tengan hutan sana.” Pinta pemuda itu. Orang-orang memandangnya dengan sinis, menatapnya dari ujung kaki sampai ujung rambut sambil menutup hidung. Tamu-tamu yang hadir semua dengan perhiasan emas di tubuhnya, bahkan sendok, garpu dan mangkok semua berlapiskan emas. Lalu, keluarlah pemilik rumah, bukannya memberi makanan, malah mengusirnya. ”Hei, pengemis, pergilah! Tak ada nasi untuk orang seperti kamu. Hanya golongan bangsawan yang bisa menginjakkan kaki di rumah ini!” Bentak pemilik rumah.
Pemuda itu merasa telah gagal menjadi pemimpin. Dengan wajah yang lesu dan sedih kembali ke gunung. Melihat pemimpinnya sangat lelah dan bersedih, salah satu pemuda yang menjaga rekannya yang sakit segera menghampirinya. “Wahai saudaraku, janganlah bersedih, mungkin Allah telah merencanakan sesuatu yang terbaik untuk kita.” Alhamdulillah rekan-rekan lainnya ternyata berhasil menjalankan tugas.
Siang berganti malam, tidurlah ketujuh pemuda itu dengan alas seadanya. Pemimpin pemuda tersebut terbangun dan menunaikan shalat Tahajjud meminta pertolongan kepada Allah. Setelah berdoa, ia pun tertidur kembali, lalu terdengar suara dalam mimpinya. “Wahai saudaraku, turunlah kembali ke kampung itu, rumah-rumah di sana telah berubah menjadi gua-gua dan batu. Pilihlah tujuh gua untuk masing-masing kalian. Beribadah dan berzikirlah kepada Allah. Jika kalian ikhlas, percayalah, Allah tidak pernah tidur, kalian akan ditunjukkan jalan ke Makkah. Berdakwahlah di jalan Tuhanmu. Janganlah kalian membiarkan orang-orang dalam kesesatan.” Seorang aulia tiba-tiba masuk ke dalam mimpi pemuda yang tadi bertahajjud kepada Tuhannya. Setiap kali aulia itu mengucapkan kata-katanya, pemuda tadi merasakan kalau bumi sedang bergetar hebat dan dentuman keras menggelegar di mana-mana. (grum…grum..grum…, au…au..au….)
Keesokan harinya, ia menceritakan mimpi itu kepada saudara-saudaranya. Dengan bibir yang bergetar, bulu kuduk yang berdiri. “Be..begitulah ceritanya saudaraku.” Rekan-rekannya merinding mendengar cerita pemimpinnya itu. “Kami yakin itu adalah petunjuk dari Tuhan wahai saudara-saudaraku.” Ujar seorang pemuda dari rekannya itu. Akhirnya beranjaklah ketujuh pemuda itu untuk turun ke kampung. Apalagi seorang rekan mereka yang tadinya sakit telah sehat kembali.
Sesampainya di kampung itu, betapa terkejutnya mereka, saat melihat pemukiman penduduk yang tadinya berdiri rumah-rumah yang besar dan megah, telah berubah menjadi gua-gua dan bebatuan. Di dalamnya ada yang berbentuk nasi kulah, ranjang pelaminan dan berbagai macam rupa lainnya. “ Astaghfirullahal ‘azhim.” Ucap pemimpin mereka yang pernah meminta nasi di tempat itu.
Mereka menyusuri setiap sudut kampung Laweung, hingga menemukan anak-anak di salah satu gua itu yang dilindungi oleh batu menggelantung tanpa penyangga. Lalu anak-anak itu dituntun keluar gua. Penduduk kampung juga terkejut saat melihat rumah mereka telah berubah menjadi lebih 30 gua. Ketika bertemu tujuh pemuda itu, seorang di antara warga kampung langsung bersujud di hadapan pemuda yang pernah turun ke kampungnya. “Maafkan kami wahai pewaris Nabi, maafkan atas perlakuan kasar kami, maafkan kami.”Lalu pemuda itu menjawab. “ Mohon ampunlah kepada Tuhan, kami sudah memaafkan kalian semua.”
Tinggallah ketujuh pemuda itu di kampung Laweung Pedir untuk berdakwah. Mereka pamit untuk beribadah dan bermunajat di dalam gua karena telah tiba bulan Zulhijjah.
Berangkatlah ketujuh pemuda itu, masing-masing membawa tongkat kayu yang ditancapkan di tanah sebagai petunjuk datangnya waktu shalat melalui sinar yang tembus melalui celah-celah dinding tujuh pintu gua. Mereka shalat istikharah dan berdoa dengan penuh keikhlasan hingga menemukan jalan ke Makkah.
Mereka berbondong-bondong terus berjalan, ternyata gema , “Labbaikallahumma labbaik, labbaikala syarikal kalabbaik.” kian terdengar jelas di dalam gua. Tapi, betapa terkejutnya penduduk kampung, tidak ada satu orangpun yang bisa melihat ketujuh pemuda itu. Hanya tongkat kayu yang masih tertancap di tempatnya.
Alkisah, tersiarlah kabar ke seluruh tanah Aceh tentang tujuh pemuda yang pergi ke Makkah setelah beribadah dan bermunajat kepada Tuhannya di dalam gua di Laweung Pedir.
Pesan Moral :
- Kita tidak boleh sombong, karena semua yang ada di dunia ini hanyalah milik Allah.
- Berbagilah dengan sesama, apalagi bagi orang yang kesusahan.
- Jadilah orang yang taat dan ikhlas beribadah kepada Allah karena akan diberikan jalan keluar.