Angkat Kearifan Lokal, Empat Guru Inovatif MIN 17 Pidie Turut Lahirkan Dua Buku Sejarah dan Budaya

Oleh : Susi Armiyanti, S.Pd.I

SIGLI – Empat orang guru dari Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 17 Pidie menorehkan prestasi membanggakan di bidang literasi dengan menjadi bagian dari 60 penulis yang karyanya terabadikan dalam dua buku monumental tentang kearifan lokal. Inisiatif yang lahir dari kepedulian akan minimnya literatur lokal ini kini menjadi hadiah istimewa bagi Kabupaten Pidie di hari jadinya yang ke-514.

Kedua buku yang memuat tulisan para pendidik inspiratif ini adalah “Ensiklopedia Budaya Pidie dari Tradisi sampai Wisata” dan “Pidie, Kisah dari Tanah Indatu”. Keempat guru MIN 17 Pidie yang menyumbangkan goresan penanya adalah:

  • Susi Armiyanti, S.Pd.I. dengan karya berjudul “Gua Tujuh; Kisah 7 Pemuda yang Pergi ke Makkah”.
  • Rahmi Safana, S.Th. dengan karya berjudul “Legenda Pocut Intan : Cerita Rakyar dari Negeri Pedir”.
  • Sayed Abdullah, S.Pd.I. dengan karya berjudul “Tgk. Chik di Waido dan Asal Mula Lueng Bintang”.
  • Nadrita, S.Pd.I. dengan karya berjudul “Kisah Kubu Aneuk Manyak”.

Kepala MIN 17 Pidie, Sabdan Husin, S.Pd., menyambut pencapaian ini dengan penuh rasa bangga. “Sungguh suatu kebanggaan bagi kami. Keberhasilan empat guru MIN 17 Pidie menjadi bagian dari 60 penulis hebat di daerah ini adalah bukti nyata semangat inovasi madrasah kami. Semoga ini menjadi pemantik motivasi bagi guru-guru berbakat lainnya untuk terus berkarya,” ujarnya.

 

Berawal dari Ide Cemerlang di Lomba Bertutur

Lahirnya karya ini berawal dari sebuah ide brilian yang dicetuskan oleh Susi Armiyanti, yang juga dikenal sebagai pelatih tari Sanggar Haflatul Islam di MIN 17 Pidie. Saat mendampingi siswa dalam sebuah lomba bertutur yang diselenggarakan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Perpusip) Pidie, ia menyadari tantangan besar: minimnya sumber buku referensi mengenai cerita lokal Pidie.

“Bagaimana siswa kita bisa bersaing di tingkat nasional jika sumber cerita lokal kita tidak terdokumentasi dengan baik?” gagas Susi saat itu di hadapan panitia dan dewan juri. “Saya mengusulkan, bagaimana jika cerita-cerita yang telah ditulis oleh para pendamping peserta ini kita kumpulkan menjadi sebuah buku yang ber-ISBN?”

Ide tersebut disambut dengan antusias oleh Kepala Dinas Perpusip Pidie, Turno Junaidi, SKM., M.KM., yang berjanji akan menindaklanjuti usulan tersebut. Benar saja, dalam waktu singkat, Dinas Perpustakaan dan Arsip menghelat “Bimbingan Teknis Kepenulisan Berbasis Konten Lokal” dan berhasil merangkul puluhan penulis dari berbagai kalangan untuk mengabadikan kekayaan budaya Pidie.

 

Kado Istimewa untuk Hari Jadi Pidie

Puncak dari kerja keras kolektif ini adalah peluncuran kedua buku tersebut pada malam perayaan Hari Jadi Kabupaten Pidie ke-514 di Pidie Convention Center, Sabtu, 20 September 2025. Karya ini secara simbolis diserahkan kepada Bupati Pidie sebagai hadiah ulang tahun yang tak ternilai bagi daerah.

Susi Armiyanti, sang penggagas ide, menegaskan pentingnya peran pendidik dalam gerakan literasi. Mengutip sastrawan Pramoedya Ananta Toer, ia berkata, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, maka ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.”

Baginya, inisiatif ini bukan hanya tentang prestasi perorangan, tetapi juga sebuah gerakan untuk “membumikan literasi” di kalangan guru dan siswa. Prestasi ini diharapkan dapat menunjang reputasi MIN 17 Pidie sebagai Madrasah Inovasi serta memperkuat akreditasi madrasah di masa mendatang.

Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa ide sederhana yang dieksekusi dengan baik dapat menghasilkan karya luar biasa, memastikan kisah dan sejarah Pidie akan terus hidup dan dikenal dari generasi ke generasi.

 

Editor: Arif

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *